04 Oktober 2008

PUASA SUNAT (6 HARI SYAWAL)

Apakah dalil bagi kelebihan berpuasa di bulan syawal?

Puasa enam hari bulan Syawal selepas mengerjakan puasa wajib bulan RomadhAn adalah amalan sunnat yang dianjurkan dan bukannya wajib. Seorang muslim dianjurkan mengerjakan puasa enam hari bulan Syawal. Banyak sekali keutamaan dan pahala yang besar bagi puasa ini. Diantaranya, barangsiapa yang mengerjakannya niscaya dituliskan baginya puasa setahun penuh (jika ia berpuasa pada bulan Romadhan).

Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih dari Abu Ayyub Radhiyallahu 'Anhu bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda, yang artinya: "Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan puasa enam hari bulan Syawal, berarti ia telah berpuasa penuh setahun ." (HR: Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i dan Ibnu Majah)

Rasulullah bersabda lagi: "Barangsiapa mengerjakan puasa enam hari bulan Syawal selepas 'Eidul Fitri bererti ia telah menyempurnakan puasa penuh setahun . Dan setiap kebaikan diganjar sepuluh kali ganda."

Dalam sebuah riwayat berbunyi, yang artinya: "Allah telah melipatgandakan setiap kebaikan dengan sepuluh kali ganda. Puasa bulan Romadhan setara dengan berpuasa sebanyak sepuluh bulan. Dan puasa enam hari bulan Syawal yang menggenapkannya satu tahun." (HR: An-Nasa'i dan Ibnu Majah dan dicantumkan dalam Shahih At-Targhib).

Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dengan lafazh: "Puasa bulan Romadhan setara dengan puasa sepuluh bulan. Sedang puasa enam hari bulan Syawal setara dengan puasa dua bulan. Itulah puasa setahun penuh."

Para ahli fiqih madzhab Hambali dan Syafi'i menegaskan bahwa puasa enam hari bulan Syawal selepas mengerjakan puasa Romadhan setara dengan puasa setahun penuh, karena pelipat gandaan pahala secara umum juga berlaku pada puasa-puasa sunnat. Dan juga setiap kebaikan dilipat gandakan pahalanya sepuluh kali ganda.

Salah satu faedah terpenting dari pelaksanaan puasa enam hari bulan Syawal ini adalah menutupi kekurangan puasa wajib pada bulan Romadhan. Sebab puasa yang kita lakukan pada bulan Romadhan pasti tidak terlepas dari kekurangan atau dosa yang dapat mengurangi keutamaannya. Pada hari kiamat nanti akan diambil pahala puasa sunnat tersebut untuk menutupi kekurangan puasa wajib.

Sebagaimana sabda Rasululloh Shalallahu 'Alaihi Wassalam, yang artinya: "Amal ibadah yang pertama kali di hisab pada Hari Kiamat adalah shalat. Allah Ta'ala berkata kepada malaikat -sedang Dia Maha Mengetahui tentangnya-: "Periksalah ibadah solat hamba-hamba-Ku, apakah sempurna ataukah kurang. Jika sempurna maka pahalanya ditulis utuh sempurna. Jika kurang, maka Allah memerintahkan malaikat: "Periksalah apakah hamba-Ku itu mengerjakan solat-solat sunnat? Jika ia mengerjakannya maka tutupilah kekurangan solat wajibnya dengan solat sunnat itu." Begitu pulalah dengan amal-amal ibadah lainnya." (HR: Abu Dawud)


Adakah disyaratkan puasa enam hari itu dilakukan berturut-turut?

Tidak disyaratkan. Harus diselang-selikan asalkan dalam bulan Syawal dan bilangannya mencukupi enam hari. Namun yang terbaik (afdhal) ialah melakukannya berturut-turut dan lebih afdhal lagi memulainya dari dua syawal.

Jika seseorang itu mempunyai puasa Ramadhan yang perlu diqadhanya, adakah harus ia berpuasa enam sebelum mengqadha puasanya?

Harus kerana puasa qadha Ramadhan memiliki waktu yang panjang untuk dilakukan iaitu sehingga Ramadhan tahun berikutnya, adapun puasa enam hari di bulan Syawal waktunya adalah terhad. Namun jika kita dapat melakukan puasa qadha terlebih dahulu, kemudian diikuti dengan puasa Syawal, itu yang terbaik kerana kita mendahulukan ibadah yang wajib ke atas yang sunat. Dan ada ulamak berpendapat; harus kita meniatkan keduanya sekali dalam satu puasa, tetapi yang terbaik kita memisahkannya kerana akan memperbanyakkan amalan kita kepada Allah.